Senin, 30 Januari 2017

Wisata Aru Jeram

Arum Jeram terbaru di cianjur









      Bagi pecinta olahraga dan wisata arung jeram, ada tempat baru yang bisa dijajaki untuk melatih kemampuan anda. Wisata baru arung jeram tersebut ada di Sungai Cikundul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. 

Pembukaan tempat wisata ini digelar pada Sabtu (2/3) oleh sejumlah pejabat setempat, kata Direktur Diva Tour & Travel, Suparman Ruslan, Direktur Diva Tour & Travel, Ahad (3/3). Peresmian yang kemudian diikuti dengan kegiatan rafting bersama di jalur sepanjang tujuh kilometer.

Suparman mengatakan pemilihan sungai Cikundul sebagai wisata arung jeram selain lokasinya tidak jauh dari Jakarta, juga potensi alamnya sangat luar biasa. Menurut dia selain arung jeram, sepanjang jalur Sungai Cikundul dapat dirangkai menjadi jalur wisata terpadu, mulai dari wisata religi Dalem Cikundul, wisata jalur off-road, sampai ke wisata Waduk Cirata dan Danau Jangari.

Diharapkan juga, dibukanya jalur arung jeram ini dapat menjadi stimulus untuk semakin berkembangnya potensi wisata lain di sekitarnya.

Lebih jauh, Ketua DPRD & Kepala Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kabupaten Cianjur juga menyampaikan harapannya agar kegiatan wisata arung jeram ini dapat membantu meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Cianjur, termasuk meningkatkan perkenomian masyarakat sekitar.

Menyikapi harapan tersebut, Diva Tour & Travel menyatakan kesiapannya untuk meningkatkan pariwisata Cianjur, termasuk memaksimalkan semua potensi sumber daya yang dimiliki oleh Kabupaten Cianjur.


buat kalian yang suka permainan yang Extrem ini ada arum jeram yang terbaru d cianjur .ayo buruan main kesini AYO KE CIANJUR :)


GUNUNG GEDE

ALUN ALUN SURYAKENCANA










      Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan salah satu dari taman nasional tertua di Indonesia dan termasuk kedalam 21 Taman Nasional Model yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan. Saat ini TNGGP merupakan perwakilan hutan hujan pegunungan di pulau Jawa yang paling utuh.

TNGGP lataknya mencakupi tiga wilayah kabupaten yaitu Bogor, Sukabumi dan Cianjur. Semenjak kecil jika melewati ruas jalur Puncak baik mau ke Bogor atau Jakarta dan sebaliknya, ketinggian Gunung Gede Pangrango selalu terlihat sepanjang jalan yang dilewati.
Gunung dengan ketinggian 2.958 mdpl itu setiap kali terlihat dari dalam kendaraan yang ditumpangi seakan sedang melambai-lambai mengajakku mencapai puncaknya. Kabut yang hampir setiap hari menutupi permukaan bagian kawah serta sekelilingnya semakin membangkitkan rasa penasaranku untuk segera mengetahui bagaimana kondisi serta keadaan sesungguhnya di puncak gunung tersebut.

Di pertigaan jalan raya dekat Istana Presiden kami turun, lalu menuju terminal angkutan yang letaknya agak ke dalam dari jalan raya Istana Cipanas untuk mencari mobil jurusan ke Gunung Putri.  dengan ongkos lima ribu rupiah per orang akhirnya kami selamat sampai di jalan kecil yang menanjak menuju pos pemeriksaan para pendaki TNGGP dari pintu Gunung Putri.
Turun dari mobil angkutan Mas Ary memberitahukan kalau ia dan teman-temannya berada di basecamp para pendaki milik Abah Idris. Meski jalannya sempit berkelok-kelok dan menanjak tapi tak sulit mencarinya karena penduduk yang ditanyai dengan mudah pula menunjukkan letaknya. Akhirnya kami sampai di sebuah rumah dengan mushola Al Mubharrokah di depannya. Untuk pertama kali itu saya bertemu Mas Ary, Odi, serta James. Mereka kenalan dari milis IBP yang sudah berpengalaman mendaki di TNGGP dan bersedia membawa kami untuk bersama-sama mendaki. Saat itu juga Odi memperkenalkan kami kepada Abah Idris, sesepuh yang juga bisa dibilang kuncen daerah itu.

“Untuk melakukan pendakian, usahakan tidak membawa barang yang tidak penting. Kalau harus bawa pun sesedikit mungkin. Perbanyak bekal makanan saja,” saran Mas Ary yang kalem itu sambil agak mesem-mesem saat melihat sleeping bag ‘jumbo’ yang kami bawa.
Benar juga, ya. Persiapan saya dan Kang Iwan ini salah, membawa baju banyak dengan alasan buat ganti kalau hujan, padahal sebagaimana dikatakan Mas Ary, “Antisipasi hujan cukup siapkan jas hujan yang baik saja, gak perlu bawa baju banyak.”

Jalanan selanjutnya yang dilalui tanah dengan tanjakkan bertangga dengan sebatang bambu yang dipasang di setiap ujung tangga tanah itu sebagai penahannya. Meski udara mulai sejuk karena matahari sudah tidak menampakkan sinarnya, namun saya mulai merasa panas. Saya sering merasakan kelelahan, sakit paha serta dada saat pernafasan sudah tidak teratur.

Setelah cukup istirahat (bahkan menurut salah seorang teman satu tim mengatakan kalau kita istirahat kelamaan) perjalanan dilanjutkan. Lampu senter dengan berbagai model dan ukuran mengeluarkan cahaya dengan indahnya. Cahaya saling berkelebat diantara besar dan rapatnya diameter pepohonan . Kami berjalan merapat dan mempersilahkan pendaki lain berjalan terlebih dahulu saat jalan yang dilalui semakin terjal.

“Kita satu tim, kita keluarga. Saat mendaki, keselamatan dan keamanan setiap pendaki adalah tanggung jawab pendaki lainnya juga. Saat mendaki kita diajarkan untuk tidak egois, terhadap teman satu tim, terhadap sesama pendaki juga terhadap alam.” Ujar Tebo memasang wajah serius sambil membetulkan letak kaca matanya. Sinar bulan yang saat itu menerobos lewat daun pepohonan samar-samar menerangi kami yang pada saat beristirahat mematikan senter.

Iseng sambil terus merayap dalam gelap, setiap ada pendaki yang menyusul kami atau berpapasan hendak turun kami selalu bertanya, “Mas, ini ke Surken masih jauh ya?”
Jawaban mereka (entah sudah menjadi tradisi atau hanya kebetulan) selalu sama, “Dekat kok! Sebentar lagi! Surya Kencana paling 25 menit lagi sampai…”

“Gile, setiap kali nanya jawabannya deket-deket dan sebentar-sebentar lagi terus, tapi ini dari tadi jalan kita kok gak sampai-sampai yah?” Ujar Revo sambil bersungut-sungut. Lalu ia terduduk mengajak istirahat.
Kami yang mendengar kontan tertawa-tawa. Memang iya sih, setiap kita nanya jawaban mereka selalu senada.
“Mungkin mereka itu cuma nyenengin ati lo aja, Vo…” timpal Mas Ary sambil tertawa juga.
“Gue capek, ah! Udah kita bikin tenda di sini aja!” Idih, Revo ngambek rupanya.
“Nih, gue kasih sosis biar semanget lagi,” canda seorang teman lainnya menggoda Revo. Yang saya lihat dan perhatikan sih, sejak dari bawah tadi, Revo memang ngemil terus.
“Nah, gitu dong! Yok kita jalan lagi..” Revo menyambar sosis lalu dengan semangat dadakan tubuhnya yang gemuk berdiri mengajak jalan lagi. Hahaha, ada-ada saja ulahnya. Membuat semua tertawa disaat gelap dan kelelahan.
Pukul Sepuluh lewat, saat perbekalan air habis, kami yang terengah-engah terus merayap dalam gelap tiba-tiba mendengar suara teriakan dari atas. “Ayo semangat, kalian sudah sampai di Alun-alun Surya Kencana…!”




JARANG ya naik gunung .seringny wisata ke tempat tempat bermain tapi cbain dulu guys kesini k gunung gede alun alun suryakencana .AYO KE CIANJUR 
   

Minggu, 29 Januari 2017

PABRIK TEH TANAWATTE

Kebun Teh Gedeh









     Perkebunan teh Gedeh adalah salah satu kebun teh tertua di pulau Jawa, tetapi tidak begitu dikenal karena letaknya yang jauh dari jalan raya dan hanya dapat dilihat oleh orang yang berniat kesana. Perkebunan teh ini lebih luas dan lebiH tinggi letaknya dibandingkan Gunung Mas, dengan luas 1000 hektar dengan ketinggian 900 - 1700 mdpl.


Penanaman teh diawali pada pada pertengahan 1870an, dan sebagian besar lahan telah berhasil ditanami sebelum tahun 1906. Pabrik teh modern yang sekarang beroperasi mulai berjalan dalam dua tahapan pada tahun 1927 dan 1929.



Perkebunan ini merupakan bagian dari PTP Nusantara VIII sejak tahun 1996.Teh kualitas premium dari perkebunan ini diekspor dengan merek "Tanawatee". Anda bisa menikmati teh ini yang disajikan dengan jeruk nipis di Tea House dekat pos gerbang pabrik. Dari tepi Utara perkebunan tampak lembah Ci Batulempar, yang memiliki 12 air terjun, tiga diantaranya memiliki ketinggian diatas 35 meter. Dari perkebunan ini terdapat jalur tidak resmi menuju puncak Gunung Gede, jalurnya relatip curam dan dibeberapa lokasi memerlukan "scrambling" dengan bantuan tali. Lewat jalur ini puncak Gunung Gede dapat dicapai dalam waktu 3 jam saja.




     Cara menuju lokasi:

Dari jalan raya Cipanas-Cianjur, belok kanan 50 meter setelah Tapal Kuda (S6.80082 E107.08433), ada plang "PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun Teh Gede/Tanawatee". Menanjak sejauh 2 Km di jalan aspal bagus menuju kampung Cariu, belok kanan di plang "PT Perkebunan Nusantara VIII Kebun Teh Gede/Tanawatee" (S6.80377 E107.06005), menanjak melaui jalan aspal tersier. Belok kanan tajam di depan gerbang perumahan Nusa Permai(S6.79847 E107.04364).Sekitar 1,9 Km dari Cariu ada saung seng disebelah kanan  jalan, dari sini belok kiri keluar dari jalan aspal ke jalan batu ditengah kebun teh. Lurus saja sampai menemui gerbang kebun teh (S6.79851 E107.04196). Total jarak tempuh dari jalan raya Cipanas-Cianjur adalah 7,2 Km.



wisatanya gak kalah menaik kan guys d daerah luar kota .di cianjur juga banyak lohh....
ayo ke cianjur .ajak kelurga kalian kesini .d jamin gakbakalan nyesel .. :)

KOLAM RENANG CIANJUR

The Bagelen Son









       KOTA Cianjur tidak saja terkenal dengan beras pandan wangi-nya, taucho atau kokok ayam Pelung yang nyaring.Daerah yang berada di kaki Gunung Pangrango itu kini juga memiliki objek wisata air modern, salah satunya adalah The Bagelen Son di Kampung Martikolot, Desa Suka Mulya, Kecamatan Karang Tengah.
Lokasinya berada di tengah kota  sehingga para pengunjung yang ingin datang cukup mudah menjangkaunya. Harga tiket masuk The Bagelen Son Cianjur Rp 15,000  untuk hari Senin hingga Kamis.
Sedangkan di akhir pekan Sabtu dan Minggu tiket masuk Rp 20,000. Harga yang cukup terjangkau dan tidak perlu menguras kantong dalam-dalam. Bila kita datang rombongan ada potongan khusus sehinga lebih hemat lagi.
Kolam renang The Bagelen Son buka mulai jam 8 pagi dan tutup jam 5 sore.  Terdapat beberapa kolam dengan kedalaman berbeda mulai 3 meter hingga kedalaman yang sesuai kemampuan kita.
Yang cukup menarik adalah tersedia kolam khusus air panas terapi ozon namun ada tambahan biaya yaitu 10 ribu per 15 menit. Fasilitas yang disediakan cukup lengkap mulai dari kamar bilas dan ganti, kantin, musholla, persewaan peralatan renang dan tempat parkir yang luas sehingga para pengunjung akan merasa nyaman.
Jangan lupa untuk mengunjungi tempat wisata menarik di daerah Cianjur dan sekitarnya seperti The Jhon’s Cianjur Aquatic Resort dan bermain air di desa Cibarengkok Ciranjang.

     Jadi kalian kalian sekeluarga bisa mengajak anak atau pacar juga ke tempat kolam renang ini pastinya nyaman dan murah meriah .tidak jauh juga lokasinya ya yang bertempat d Marti .bnyak yang berkunjung kesini d mulai dari anak anak atau orang dewasa. jadi buruan ajak ya .AYO KE CIANJUR :) :)


WADUK JANGARI CIANJUR

Wisata waduk jangari cirata

     

        Asalamualiakum semua .buat kalian yang tempat tinggal d cianjur pasti megenal dengan waduk jangari tidak asing dengan sebutan jangari .yang tidak jauh lokasinya jadi kalian bia berkunjung kesini .bisa memancing atau naik perahu dan bakar" ikan juga .tempatnya indah dan tidak jauh .








         Wilayah Kabupaten Cianjur sangat luas. Objek wisata pun juga cukup banyak. Salah satunya Waduk Jangari Cirata. Waduk ini  terbentuk dari genangan air seluas 62 kilometer persegi akibat pembangunan waduk yang membendung Sungai Citarum. Genangan waduk tersebut tersebar di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Cianjur, Purwakarta dan Kabupaten Bandung.
Genangan air terluas terdapat di Kabupaten Cianjur, yang kemudian dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata rekreasi berbasis air. Saat ini objek wisata tirta yang paling berkembang dan ramai dikunjungi wisatawan lokal di kawasan Waduk Cirata adalah Jangari dan Calingcing di Kabupaten Cianjur.
Padahal selain kedua tempat tersebut, masih banyak daya tarik potensial lainnya yang belum dikembangkan, seperti bendungan dan teknologinya, wisata agro, dan ekowisata hutan. Lokasi yang strategis maupun daya tarik yang cukup beragam tadi nampaknya belum cukup untuk menjadikan objek wisata ini dikunjungi wisatawan non lokal, terlebih mancanegara. Kawasan Waduk Cirata dengan luas 43.777,6 hektar terdiri dari 37.577,6 hektar wilayah daratan dan 6.200 hektar wilayah perairan.
Fungsi utama waduk sebagai pembangkit tenaga listrik, ternyata menimbulkan berbagai kegiatan ikutan yang berkembang di kawasan Cirata, termasuk pariwisata. Dengan memanfaatkan kondisi alam dan lingkungan air yang terbentuk di kawasan ini, potensi daya tarik wisata tersebut berkembang dan menarik wisatawan untuk berkunjung ke beberapa lokasi di kawasan Waduk Cirata.
Objek wisata Jangari yang terletak di Desa Bobojong, Kecamatan Mande yang berjarak lebih 17 kilometer dari pusat kota Cianjur, memiliki luas sekitar 15 hektar. Sedangkan Calingcing berlokasi di Desa Sindangjaya, Kecamatan Ciranjang, sekitar 20 kilometer dari kota Cianjur, dengan luas sekitar 5 hektar. Kedua lokasi tersebut sangat strategis karena berada pada titik pertemuan dua lintasan pintu masuk menuju wilayah pengembangan pariwisata Cirata yaitu dari arah Cianjur (Jakarta dan Bogor) serta Ciranjang (dari Bandung) yang memiliki potensi pasar wisatawan yang sangat besar. Untuk menuju ke Jangari terdapat rute angkutan umum dari pusat kota Cianjur. Aksesibilitas ke Calingcing tidak sebaik Jangari. Lokasi Calingcing lebih jauh dari pusat kota Cianjur dan belum ada angkutan umum menuju lokasi tersebut.
Di lokasi Jangari dan Calingcing wisatawan dapat menikmati rekreasi alam terbuka, dengan berbagai aktivitas yang dapat dilakukan seperti melihat-lihat pemandangan genangan air waduk, berperahu, memancing atau hanya sekedar berjalan-jalan dan duduk–duduk bersama teman atau keluarga sambil menikmati makanan yang mereka bawa. Kegiatan berperahu mengelilingi waduk Cirata dikenai tarif sekitar Rp30.000, untuk berperahu selama 2-3 jam. Atraksi yang dapat dinikmati oleh pengunjung pada saat berperahu mengelilingi waduk adalah melihat jaring terapung dan budidaya ikan sambil menikmati hidangan berupa ikan bakar/goreng yang disediakan oleh salah satu rumah makan terapung yang terdapat di lokasi tersebut.
Namun saat ini, populasi jaring terapung yang cukup banyak terkesan hampir menutupi permukaan waduk, sehingga dapat mengurangi kenyamanan wisatawan/pengunjung pada saat melakukan pesiar, karena menghalangi pemandangan keseluruhan.
Fasilitas penunjang yang tersedia di lokasi Jangari diantaranya pelataran parkir yang cukup luas, namun sayangnya belum tertata dengan baik. Hal tersebut terlihat pada saat hari libur dengan jumlah pengunjung yang banyak, ruang parkir menjadi tidak teratur dan terkesan semrawut. Fasilitas lainnya yaitu toilet umum -namun kondisinya kurang bersih, demikian juga dengan kondsi lingkungan keseluruhan. Saung-saung yang terletak di sepanjang jalan di dekat pusat keramaian Jangari dapat disewa oleh pengunjung untuk duduk-duduk dan beristirahat.
Untuk memenuhi kebutuhan wisatawan juga tersedia kios-kios dan warung-warung makanan yang menjual berbagai makanan dan minuman serta barang-barang dagangan lainnya. Selain warung, pedagang kaki lima terlihat cukup banyak menggelar dagangannya. Letak kios dan warung-warung tersebut saat ini belum tertata dengan baik, dan kurang menjaga kebersihan sekitarnya. Sebagian besar kios-kios tersebut terletak di tepi sempadan genangan, sehingga menghalangi pemandangan langsung ke bentangan waduk.
Untuk menambah daya tarik wisata di Jangari pada setiap hari libur/besar pihak pengelola menyediakan atraksi-atraksi kesenian tradisional maupun modern yang digemari oleh para pengunjung seperti jaipongan atau musik dangdut. Saat ini pengelolaan objek dan daya tarik wisata Jangari dan Calingcing dilaksanakan oleh Pemda Cianjur, mengingat kedua lokasi tersebut berada pada wilayah administrasi Kabupaten Cianjur. Objek wisata Calingcing tidak seramai dan belum berkembang seperti Jangari. Selain lokasinya lebih jauh dari jalan raya Cianjur, tempat ini juga tidak dilalui kendaraan umum. Fasilitas yang tersedia di Calingcingpun tidak selengkap dan sebanyak yang terdapat di Jangari, meskipun harga tiket masuk yang dikenakan ke pengunjung sama, yaitu Rp500 per orang.
Selain Jangari dan Calingcing, lokasi lainnya relatif belum berkembang dan dikunjungi wisatawan. Padahal lokasi dimana dam site Cirata berada potensial untuk dikembangkan sebagai objek wisata pendidikan dan penelitian berbasis teknologi. Pihak pengelola waduk Cirata (BPWC) bahkan telah memiliki rencana pengembangan kawasan ini untuk menjadi resor wisata, namun pembangunannya terhambat masalah sumber daya.
Karakteristik Pengunjung. Potensi daya tarik yang dimiliki kawasan Waduk Cirata secara keseluruhan sebenarnya sangat beragam. Selain daya tarik wisata tirta yang menjadi objek wisata rekreasi paling berkembang saat ini, bendungan dengan teknologi pembangkit listrik di dalam perut bumi merupakan objek wisata pendidikan dan penelitian yang belum tergali. Demikian juga dengan potensi wisata agro selain perikanan jaring terapung, wisata alam hutan, maupun wisata budaya dan kesenian yang belum banyak dilirik.
Mengingat lokasi dan aksesibilitasnya yang sangat baik, objek wisata di kawasan ini sangat potensial untuk menarik wisatawan dari luar Cianjur. Keberadaan kawasan wisata Puncak, maupun jalur regional Jakarta-Cianjur-Bandung merupakan sumber wisnus maupun wisman yang potensial. Demikian juga dengan perkembangan jalur Purwakarta-Padalarang. Luasnya kawasan dengan daya tarik yang beragam dan tersebar di kawasan Waduk Cirata menyebabkan pengembangan kepariwisataan perlu didistribusikan dengan tema-tema dan sasaran pasar yang berbeda-beda. Peningkatan kualitas produk mencakup kualitas daya tarik dan fasilitas penunjang di kawasan ini perlu dilakukan, sehingga diharapkan dapat menarik pangsa pasar wisatawan lain dari golongan menengah ata


AYO KE CIANJUR .... :) :)



Sabtu, 28 Januari 2017

Situs Megalit

Gunung padang
     

     Sejak Maret 2011, tim peneliti katastrofi purba yang dibentuk kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, dalam survei untuk melihat aktifitas sesar aktif Cimandiri yang melintas dari Pelabuhan Ratu sampai Padalarang melewati Gunung Padang. Ketika tim melakukan survei bawah permukaan Gunung Padang diketahui tidak ada intrusi magma. Kemudian tim peneliti melakukan survei bawah permukaan Gunung Padang secara lebih lengkap dengan metodologi geofisika, yakni geolistrik, georadar, dan geomagnet di kawasan Situs tersebut. Hasilnya, semakin meyakinkan bahwa Gunung Padang sebuah bukit yang dibuat atau dibentuk oleh manusia (man-made). Pada November 2011, tim yang dipimpin oleh Dr. Danny Hilman Natawidjaja terdiri dari pakar kebumian ini semakin meyakini bahwa Gunung Padang dibuat oleh manusia masa lampau yang pernah hidup di wilayah itu.









       Situs Gunung Padang merupakan situsprasejarah peninggalan kebudayaanMegalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, DesaKaryamukti, Kecamatan Campaka,Kabupaten Cianjur. Lokasi dapat dicapai 20 kilometer dari persimpangan kota kecamatan Warungkondang, dijalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Luas kompleks utamanya kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundakterbesar di Asia Tenggara.


penemuan

Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, "Buletin Dinas Kepurbakalaan") tahun 1914. Sejarawan Belanda,N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. Setelah sempat "terlupakan", pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah keGunung Gede[1]. Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenaspada tahun 1979 terhadap situs ini.

LOKASI
Lokasi situs berbukit-bukit curam dan sulit dijangkau. Kompleksnya memanjang, menutupi permukaan sebuah bukit yang dibatasi oleh jejeran batu andesit besar berbentuk persegi. Situs itu dikelilingi oleh lembah-lembah yang sangat dalam[1]. Tempat ini sebelumnya memang telah dikeramatkan oleh warga setempat.[2] Penduduk menganggapnya sebagai tempat Prabu Siliwangiraja Sunda, berusaha membangun istana dalam semalam.

FUNGSI
Fungsi situs Gunungpadang diperkirakan adalah tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana pada sekitar 2000 tahun SM.[2] Hasil penelitian Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir menunjukkan kemungkinan adanya pelibatan musik dari beberapa batu megalit yang ada[3]. Selain Gunungpadang, terdapat beberapa tapak lain di Cianjur yang merupakan peninggalan periode megalitikum.


       Ada beberapa orang yang percaya kalau situs gunung padang memiliki keterkaitan dengan situs piramida yang ada di mesir, dikarenakan bentuknya yang mirip dengan ruang di dalamnya dan karena umurnya yang jauh lebih tua dibandingkan piramida yang ada di mesir. Saat ini situs padang masih berada dalam masa pengkajian lebih lanjut.
Menelusuri misteri situs Gunung Padang. Usia "piramida" Gunung Padang diperkirakan 4.700-10.900 tahun sebelum Masehi—bandingkan dengan piramida Giza di Mesir, yang hanya 2.500 SM. Namun pembuktian belum maksimal, dan ini menyebabkan pakar geologi masih ragu terhadap "piramida" itu. Terlalu dini untuk diumumkan. Oleh karena itu Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang melanjutkan penelitiannya pada 2013 ini.Hingga saat ini Gunung Padang sudah menjadi buah bibir setelah Tim Katastrofi Purba meneliti patahan gempa Sesar Cimandiri, sekitar empat kilometer ke arah utara dari situs tersebut.
Kontroversi merebak setelah Andi Arief merilis ada sejenis piramida di bawah Gunung Padang pada awal tahun lalu. Dia menyebutkan situs tersebut memiliki ruang dan seperti buatan manusia. Kecurigaannya berawal dari bentuk Gunung Padang yang hampir segitiga sama kaki jika dilihat dari utara. Sebelumnya, Tim juga menemukan bentuk serupa di Gunung Sadahurip diGarut dan Bukit Dago Pakar di Bandung saat meneliti Sesar LembangAndi Arief dan timnya direncanakan terus melakukan penelitian dan survei untuk mengetahui lebih jauh bawah permukaan Gunung Padang dengan berbagai metodologi, baik geofisikaarkeologi,paleosedimentasi, arsitektur dan kawasan, dan lain-lain hingga Maret 2014. Namun, untuk penggalian tidak dilakukan karena memerlukan biaya yang besar.
Menjelang akhir tahun 2012, para peneliti Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padangmengadakan pertemuan untuk mengevaluasi hasil riset dan survei pada 2012 dan merencanakan riset lanjutan di Gunung Padang.[15] Pertemuan yang diselenggarakan di Kantor Staf Khusus Presiden pada 18 Desember 2012 itu, menghasilkan pandangan-pandangan baru dari para ahli yang tergabung dalam Tim Terpadu Riset Mandiri memaparkan dan mendiskusikan temuan-temuan riset dan langkah-langkah ke depan. Tim Geologi memandang bahwa survei dan kajian yang dilakukan sudah mencapai 99% telah mendapatkan data lengkap baik data hasil survei geolistrikgeoradar, maupun geomagnetik, serta dan alat bantu geofisikalainnya. Selain tentunya citra satelit, foto IFSAR, kontur dan peta model dijital elevasi (DEM). Dari berbagai data yang dihasilkan itu, ditambah dengan pembuktian paleosedimentasi di beberapa titik bor sampling, serta analisa petrografi, secara saintifik bisa disimpulkan bahwa memang ada man-made structure di bawah permukaan situs Gunung Padang.
Bangunan di bawah permukaan ini juga dipastikan memiliki chamber dan bentuk-bentuk struktur lain (dugaan goa atau lorong), serta kecenderungan adanya anomali magnetik di berbagai lintasan alat geofisika. Temuan ini makin diperkuat dengan temuan Tim arkeologi yang berhasil menemukan artefak-artefak di barat dan timur bangunan Gunung Padang juga tersingkap, terutama di luar situs definitif saat ini. Bahkan temuan awal artefak berupa batu melengkung di sisi timur situs, menunjukkan dugaan kuat sebagai “pintu masuk” ke dalam bangunan bawah permukaan Gunung Padang. Temuan arkeologi ini, merupakan temuan terbaru sejak situs ini pertama kali ditemukan.
Di samping itu, Tim sipil dan arsitek sudah sampai tahap maju, selain memaparkan berbagai jenis potongan batu (yang menunjukkan campur tangan manusia dan teknologi masa itu), juga memaparkan luasan situs yang jauh lebih besar dari yang ada sekarang. Tim ini sudah menemukan struktur yang hampir mirip dengan temuan di Sumba Nusa Tenggara Barat.
Dalam waktu dekat struktur imaginer yang lebih detail akan dibuat berdasarkan perbandingan yang ada. Sementara Tim astronomi akan menyelesaikan temuan timeline tahun pembuatan yang bisa secara saintifik dilakukan di luar hasil radio-carbon dating yang sudah dilakukan sampai validasi di dua lab yaitu labpratorium Badan Atom Nasional dan laboratorium radio-carbon di Miami FloridaAmerika Serikat.
Untuk ke depannya, peneliti akan berkonsentrasi pada lokasi yang berada di luar situs sehingga bentuk dan isi di dalamnya akan terbuka sekaligus.

Perkembangan penelitian situs Gunung Padang

         Tim Terpadu Riset Mandiri masih terus melakukan eskavasi (pemboran) untuk membuktikan keberadaan struktur bangunan dan ruang-ruang di bawah kedalaman 4-5 meter. Sleain itu, perkiraan umur situs juga masih diteliti dengan memeriksa sampel-sampel dari situs ini. Dugaan sementara adalah situs Gunung Padang ini tidak dibangun dalam satu masa, tetapi melibatkan beberapa kebudayaan. Misalnya, yang membuat batu-batu kolom menjadi menhir-menhir, belum tentu sama dengan masyarakat yang membuat susunan batu-batu kolom dengan semen purba. Demikian juga bangunan susunan batu kolom andesit di permukaan, atau yang sudah tertimbun beberapa meter di bawah, belum tentu dibangun satu masa dengan struktur bangunan di bawahnya lagi. Situs ini dapat menjadi bukti peradaban tertua manusia yang tanpa diketahui hilang dari informasi pra-sejarah Indonesia.



Kalian pasti gak asing lagi mengenal situs magelit atau d sebut juga gunung padang .ayo ke cianjur 

Wisata Air Terjun


1.CURUG CIBEREM

   






        Semua orang pasti akan menginginkan kenyamanan setelah melakukan rutinitas setiap hari curug ciberem salah satu tujuan wisata d daerah cianjur.
         Curug Cibereum terdiri dari air terjun utama Curug Cibeureum, dan dua air terjun lain yang lebih kecil, Curug Cidendeng dan Curug Cikundul. Curug Cibeureum adalah air terjun terbesar dan paling pendek di kawasan ini, letaknya yang lebih terbuka dan dekat shelter sehingga lebih banyak dikerumunin.  Nama Cibeureum berasal dari bahasa sunda yang berarti sungai merah, nama ini diambil dari nuansa merah dinding tebing yang terbentuk dari lumut merah yang tumbuh secara endemik disana.

Disebelah kanan Curug Cibeureum adalah Curug Cidendeng, ukurannya lebih tinggi dan langsing.  Airnya melintasi tebing batu-batu trap dan jatuh menimpa lereng tebing yang berlumut.  Sedangkan yang paling kanan adalah Curug Cikundul, letaknya yang sangat tinggi dan agak tersembunyi di ceruk dua tebing.

Ketiga curug ini memiliki ketinggian antara 40-50 meter dan berada di ketinggian 1675 m dari permukaan laut (dpl).  Curah hujan rata-rata di kawasan ini berkisar 3.000-4.200 mm per tahun.  Bulan basah pada perode Oktober sampai Mei, pada saat musim barat laut dan rata-rata hujannya lebih dari 200 mm per bulan.  Bulan Desember sampai Maret curah hujannya dapat mencapai lebih dari 400 mm per bulan. 

Legenda

Dinamakan Cibeureum karena konon dulu air yang dialirkannya berwarna merah. Ci (Sunda, artinya air) dan beureum (Sunda, artinya merah). Warna merah ini berasal dari dinding tebing curug ditumbuhi lumut merah ( Sphagnum gedeanum). Jika terkena sinar matahari, warna air pun terlihat berubah menjadi merah.

Selain mitos berupa air yang berwarna merah tersebut diatas, terdapat juga mitos yang lain yaitu diyakininya keberadaan seorang pertapa sakti yang sedang melakukan laku ritual (bertapa).  Dikarenakan bertapa sangat lama dan tekun akhirnya pertama tersebut berubah menjadi batu.  Konon batu besar yang berada di tengah-tengah air terjun Cibeureum ini adalah perwujudan seorang pertapa sakti tersebut.
 


Lokasi

Terletak di dalam kawasan Taman Nasional Gede Pangrango (TNGP) Cibodas, tepatnya di Desa Sindang Laya, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, PropinsiJawa Barat.

Peta dan Koordinat GPS :6° 45' 17.11" S  106° 59' 7.52" E    


Aksesbilitas

Berjarak sekitar 2,6 km atau satu jam dengan berjalan kaki dari gerbang masuk Taman Nasional.  Sedangkan untuk menuju Taman Nasional itu sendiri  harus melewati pintu masuk kawasan wisata Kebun Raya Cibodas.

Perjalananan menuju kawasan wisata Cibodas dapat ditempuh dengan mobil dengan kondisi jalan cukup mulus. Jarak ke kawasan ini sekitar 100 km dari Jakarta (sekitar 3 jam perjalanan).  

Pintu masuk menuju ke Curug Cibeureum terletak di sebelah utara sekitar 500 m dari pintu masuk utama Kebun Raya Cibodas.  Pintu masuk ini juga merupakan jalan masuk menuju pendakian ke Gunung Gede-Pangrango.  


Sepanjang perjalanan menuju curug ini akan ditemui beberapa tempat yang menarik, juga beberapa tempat peristirahatan (pos) yang sengaja dibangun oleh pengelola.
Sekitar 30 menit berjalan dari pintu masuk ditemui pos pertama.  Di Pos pertama ini terdapat pusat informasi, tempat istirahat dan toilet.

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke pos kedua yang terletak di dekat Telaga Biru.  Telaga (dengan luas sekitar 0,25 ha) ini mempunyai air yang berwarna biru kehijau-hijauan karena di dalam telaga ini terdapat ganggang hidup sehingga membuat nya berwarna biru.

Setelah berjalan sekitar 2 km, perjalanan akan melewati jembatan yang terbuat dari susuan potongan kayu yang rapi di atas Rawa Gayonggong. Gayonggong sendiri itu jenis rumput. Aman untuk dilewati walau ada beberapa kayu yang udah bolong karena rapuh.  Trek jembatan kayu ini lumayan panjang untuk disebut sekedar jembatan, sampai sedikit berkelok-kelok juga.  Di jembatan kayu ini ada tempat istirahat untuk sekedar melepas lelah atau mengabadikan pemandangan.

Jalur jembatan kayu kembali berganti dengan trek bebatuan, dan tidak lama akan ditemui pos ketiga yang terletak di sebelah persimpangan (pertigaan) dan dinamakan Panyancangan Kuda.  Ada plang penunjuk arah disana, dengan arah ke kiri menuju lokasi air panas, Kandang Badak dan Puncak Gede, sedangkan arah ke kanan ke curug Cibeureum dan puncak Pangrango.

Dari persimpangan tersebut ke arah kanan jalan agak menurun sedikit dan datar.  Waktu tempuh menuju curug sekitar seperempat jam lagi dari persimpanan ini. 


Tiket dan Parkir
Biaya tiket masuk ke Curug Cibeureum ini adalah Rp 3500 per orang. Biaya ini adalah untuk berkunjung ke Curug Cibeureum atau melakukan pendakian.  Sebelumnya di pintu gerbang Kawasan Wisata Kebun Raya Cibodas membayar tiket masuk sebesar 2000 per orang dan Rp 5000 untuk kendaraan roda empat.




AYO KE CIANJUR :) :)