Senin, 30 Januari 2017

GUNUNG GEDE

ALUN ALUN SURYAKENCANA










      Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan salah satu dari taman nasional tertua di Indonesia dan termasuk kedalam 21 Taman Nasional Model yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan. Saat ini TNGGP merupakan perwakilan hutan hujan pegunungan di pulau Jawa yang paling utuh.

TNGGP lataknya mencakupi tiga wilayah kabupaten yaitu Bogor, Sukabumi dan Cianjur. Semenjak kecil jika melewati ruas jalur Puncak baik mau ke Bogor atau Jakarta dan sebaliknya, ketinggian Gunung Gede Pangrango selalu terlihat sepanjang jalan yang dilewati.
Gunung dengan ketinggian 2.958 mdpl itu setiap kali terlihat dari dalam kendaraan yang ditumpangi seakan sedang melambai-lambai mengajakku mencapai puncaknya. Kabut yang hampir setiap hari menutupi permukaan bagian kawah serta sekelilingnya semakin membangkitkan rasa penasaranku untuk segera mengetahui bagaimana kondisi serta keadaan sesungguhnya di puncak gunung tersebut.

Di pertigaan jalan raya dekat Istana Presiden kami turun, lalu menuju terminal angkutan yang letaknya agak ke dalam dari jalan raya Istana Cipanas untuk mencari mobil jurusan ke Gunung Putri.  dengan ongkos lima ribu rupiah per orang akhirnya kami selamat sampai di jalan kecil yang menanjak menuju pos pemeriksaan para pendaki TNGGP dari pintu Gunung Putri.
Turun dari mobil angkutan Mas Ary memberitahukan kalau ia dan teman-temannya berada di basecamp para pendaki milik Abah Idris. Meski jalannya sempit berkelok-kelok dan menanjak tapi tak sulit mencarinya karena penduduk yang ditanyai dengan mudah pula menunjukkan letaknya. Akhirnya kami sampai di sebuah rumah dengan mushola Al Mubharrokah di depannya. Untuk pertama kali itu saya bertemu Mas Ary, Odi, serta James. Mereka kenalan dari milis IBP yang sudah berpengalaman mendaki di TNGGP dan bersedia membawa kami untuk bersama-sama mendaki. Saat itu juga Odi memperkenalkan kami kepada Abah Idris, sesepuh yang juga bisa dibilang kuncen daerah itu.

“Untuk melakukan pendakian, usahakan tidak membawa barang yang tidak penting. Kalau harus bawa pun sesedikit mungkin. Perbanyak bekal makanan saja,” saran Mas Ary yang kalem itu sambil agak mesem-mesem saat melihat sleeping bag ‘jumbo’ yang kami bawa.
Benar juga, ya. Persiapan saya dan Kang Iwan ini salah, membawa baju banyak dengan alasan buat ganti kalau hujan, padahal sebagaimana dikatakan Mas Ary, “Antisipasi hujan cukup siapkan jas hujan yang baik saja, gak perlu bawa baju banyak.”

Jalanan selanjutnya yang dilalui tanah dengan tanjakkan bertangga dengan sebatang bambu yang dipasang di setiap ujung tangga tanah itu sebagai penahannya. Meski udara mulai sejuk karena matahari sudah tidak menampakkan sinarnya, namun saya mulai merasa panas. Saya sering merasakan kelelahan, sakit paha serta dada saat pernafasan sudah tidak teratur.

Setelah cukup istirahat (bahkan menurut salah seorang teman satu tim mengatakan kalau kita istirahat kelamaan) perjalanan dilanjutkan. Lampu senter dengan berbagai model dan ukuran mengeluarkan cahaya dengan indahnya. Cahaya saling berkelebat diantara besar dan rapatnya diameter pepohonan . Kami berjalan merapat dan mempersilahkan pendaki lain berjalan terlebih dahulu saat jalan yang dilalui semakin terjal.

“Kita satu tim, kita keluarga. Saat mendaki, keselamatan dan keamanan setiap pendaki adalah tanggung jawab pendaki lainnya juga. Saat mendaki kita diajarkan untuk tidak egois, terhadap teman satu tim, terhadap sesama pendaki juga terhadap alam.” Ujar Tebo memasang wajah serius sambil membetulkan letak kaca matanya. Sinar bulan yang saat itu menerobos lewat daun pepohonan samar-samar menerangi kami yang pada saat beristirahat mematikan senter.

Iseng sambil terus merayap dalam gelap, setiap ada pendaki yang menyusul kami atau berpapasan hendak turun kami selalu bertanya, “Mas, ini ke Surken masih jauh ya?”
Jawaban mereka (entah sudah menjadi tradisi atau hanya kebetulan) selalu sama, “Dekat kok! Sebentar lagi! Surya Kencana paling 25 menit lagi sampai…”

“Gile, setiap kali nanya jawabannya deket-deket dan sebentar-sebentar lagi terus, tapi ini dari tadi jalan kita kok gak sampai-sampai yah?” Ujar Revo sambil bersungut-sungut. Lalu ia terduduk mengajak istirahat.
Kami yang mendengar kontan tertawa-tawa. Memang iya sih, setiap kita nanya jawaban mereka selalu senada.
“Mungkin mereka itu cuma nyenengin ati lo aja, Vo…” timpal Mas Ary sambil tertawa juga.
“Gue capek, ah! Udah kita bikin tenda di sini aja!” Idih, Revo ngambek rupanya.
“Nih, gue kasih sosis biar semanget lagi,” canda seorang teman lainnya menggoda Revo. Yang saya lihat dan perhatikan sih, sejak dari bawah tadi, Revo memang ngemil terus.
“Nah, gitu dong! Yok kita jalan lagi..” Revo menyambar sosis lalu dengan semangat dadakan tubuhnya yang gemuk berdiri mengajak jalan lagi. Hahaha, ada-ada saja ulahnya. Membuat semua tertawa disaat gelap dan kelelahan.
Pukul Sepuluh lewat, saat perbekalan air habis, kami yang terengah-engah terus merayap dalam gelap tiba-tiba mendengar suara teriakan dari atas. “Ayo semangat, kalian sudah sampai di Alun-alun Surya Kencana…!”




JARANG ya naik gunung .seringny wisata ke tempat tempat bermain tapi cbain dulu guys kesini k gunung gede alun alun suryakencana .AYO KE CIANJUR 
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar